Suatu kehormatan bagi manusia untuk menjadi satu-satunya binatang (baca: makhluk) berintelektual di bumi. Hal ini menempatkan kewajiban moral ke atas umat manusia untuk menjalani hidup yang berintelektual. Orang-orang malas buta terhadap kemuliaan ini dan mengabaikan kewajiban ini - Mortimer Adler.
Tidak seorang pun manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Bahkan dapat dikatakan tanggung jawab sebagai bukti eksistensi manusia itu. Semakin sadar akan eksistensi, semakin sadar juga akan tanggung jawab. Kesadaran akan tanggung jawab menjadikan si-manusia berbudi luhur.
Setiap kita memiliki tanggung jawab secara unik. Tapi tak terlepas juga dari tanggung jawab yang umum, misalnya semua mahasiswa memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu tanggung jawab studi.
Entitas Mahasiswa
Mahasiswa adalah pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Paling tidak menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Baik tidaknya masa depan suatu bangsa pada masa yang akan datang dapat diprediksi dengan melihat kondisi mahasiswanya sekarang. Mahasiswa dikenal sebagai kaum intelektual. Tapi sering gelar tersebut hanya sebatas gelar prosedural semata. Tamat sekolah menengah, masuk perguruan tinggi langsung diklaim sebagai kaum intelek, tanpa memandang luas atau tidaknya wawasannya;baik atau tidaknya karakternya. Tidak mempertimbangan, seberapa terbebankah mengerjakan studinya. Lahirlah mahasiswa ‘teks’ tanpa ‘konteks’.
Ketika di sekolah menengah, mahasiswa belajar. Di perguruan tinggi, idealnya, praksis yang dilakukan ‘maha belajar’. Tapi tidak selalu demikian. Lebih banyak tidaknya. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengerjakan studi dengan baik dan benar. Bertanggung (responsible) menurut Oxford, having the job or duty of doing sth caring for sb/sth, so that one may be blamed if sth goes wrong.
Realitas kekinian Mahsiswa
Tidak memiliki kesungguhan hati untuk belajar; tidak menaruh perhatian yang serius untuk mengerjakan studi dengan etika studi yang benar; fabrikasi, mengarang cerita; falsifikasi, pemalsuan data; plagiat, menjiplak karya merupakan potret mahasiswa yang tidak bertanggung jawab yang tidak susah mahasiswa temukan. Kondisi kurang bertanggung jawab ini tengah menggurita, tak terkecuali kampus-kampus yang kenamaan, seperti penulis baca di salah satu harian surat kabar.
Kualitas sangat tidak menggembirakan. Minat baca sangat rendah, belum lagi kemampuan menulis dan keterampilan komunikasinya. Apalagi semangat untuk menelitinya. Mahasiswa sering berorientasi hanya untuk lulus dan mendapat nilai bagus saja dalam belajar. Tokoh Rancho dalam 3 idiots memberikan suatu antitesis yang menginspirasi. Jangan belajar untuk nilai, tetapi belajarlah untuk menyenangkan jiwa; jangan mengejar kesuksesan (baca: lulus), tapi kejarlah kesempurnaan maka kesuksesan akan mengekor di belakang.
Kurang Diperhatikan
Barangkali belajar itu sendiri belum bisa dikerjakan. Tidak sedikit mahasiswa yang masih harus belajar bagaimana belajar. Metode belajar yang efektif adalah mempelajari teori, melakukan eksperimen di lapangan atau di lab, kunjungan dan laporan, diskusi interaktif dan bahkan debat. Ada tiga keterampilan dasar yang harus ditumbuhkembangkan dalam dunia akademia secara terus menerus. Ironisnya, sering mahasiswa tidak memberikan perhatian kepada keterampilan ini. Padahal berdampak signikan dalam belajar. Membaca, menulis dan berkomunikasi verbal dengan efektif. Membaca sangat bermanfaat. Dengan membaca, cakrawala orang dapat meluas mengatasi batas-batas waktu dan tempat (Franz Magnis-Suseno: 1997).
Waktu untuk membaca harus diciptakan setiap hari. Bagi mahasiswa yang masih belum menumbuhkannya, dimulai dari membaca buku yang ringan-ringan dulu. Mempelajari teknik membaca cepat. Jika mahasiswa itu tidak membaca, hampir bisa dipastikan kalau mahasiswa juga tidak menulis. Padahal menulis sangat banyak memberi manfaat. Menulis melatih mahasiswa mengorganisir pikiran. Writing is thinking. If you can’t thinking you can’t write. Learning to write is learning to think (Robert Pinckert: 1981). Lewat tulisan, mahasiswa bisa mengkomunikasikan ide atau gagasan. Kalau belum bisa di media massa, paling tidak di note-nya facebook. Siapa pun mahasiswa, perlu belajar berkomunikasi di depan umum dengan efektif. Berlatih menjadi public speaker sampai porsi tertentu menjadi keharusan.
Bijak mengelola Waktu
Barangkali pembahasan yang singkat ini akan kurang sekali jika tidak membukakan sedikit tentang pengelolaan waktu. Setiap manusia memiliki keunikan. Tetapi ada yang sama bagi setiap mahasiswa. Masing-masing mahasiswa memiliki waktu dua puluh empat jam perhari. Tetapi dalam penggunaan akan banyak perbedaan.
Sering sekali kegagalan mahasiswa untuk memberikan yang terbaik untuk studi mahasiswa bukan karena kurang berbakat secara akademis, tetapi karena kurangnya waktu untuk belajar. Lebih banyak waktu terbuang percuma untuk hal-hal yang kurang membangun.
Pinsip penggunaan waktu adalah seberapa penting dan seberapa mendesak (Butler-Hope). Selalu mahasiswa harus ingat, berkesempatan menempuh pendidikan tinggi adalah kesempatan istimewa. Waktu adalah kesempatan. Rahmat ini jangan sampai mahasiswa sia-siakan(!)
Tips pengelolaan waktu:
Langkah 1: Jangan abdikan diri untuk melakukan hal-hal tidak penting.
Langkah 2: Gunakan waktu ekstra untuk melakukan hal-hal penting yang tidak mendesak. Secara perlahan, lebih sedikit dan lebih sedikit persoalan yang akan mendesak karena mahasiswa telah menyelesaikannya sebelum persoalan tersebut mendesak (Butler-Hope).
Penutup
Akhirnya, hendaklah mahasiswa semakin menghayati status dan peran-nya. Jadilah menjadi intelektual muda yang substansial, bukan yang prosedural saja – akademia yang kontekstual bukan hanya tekstual. Mahsiswa harus belajar menjadi mahasiswa yang berintegritas dan juga berkualitas. Integritas tanpa kualitas adalah absurd. Kualitas tanpa integritas korup.
Penulis adalah mahasiswa angkatan 2006 jurusan matematika Universitas Negeri Medan.
Alamat Penulis:
Jln.Sukaria No 59 Pancing, Medan